Di Tengah Luka Gempa, Bhayangkari Hadirkan Harapan: Polres Nagekeo Salurkan Perlengkapan Sekolah untuk Ratusan Pelajar dari Ketua Umum Bhayangkari.
Nagekeo, 9 September 2026 — Di tengah proses pemulihan pascabencana gempa bumi tektonik yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, secercah harapan kembali hadir bagi dunia pendidikan. Kepedulian Ketua Umum Bhayangkari diwujudkan melalui penyaluran bantuan perlengkapan sekolah kepada siswa-siswi terdampak gempa di SDK Wolorae dan SMP Negeri 1 Aesesa.
Bantuan tersebut disalurkan oleh Polres Nagekeo pada Rabu (9/9/2026), dipimpin langsung oleh Wakapolres Nagekeo Kompol Made Mudana, sebagai bentuk kepedulian Polri bersama Bhayangkari terhadap para pelajar yang sedang berjuang kembali bangkit setelah bencana.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 08.55 WITA di SDK Wolorae. Secara simbolis, bantuan diserahkan oleh Wakapolres Nagekeo kepada Kepala SDK Wolorae, Maria Imacullata Tajo Maxrin, S.Pd.SD, untuk selanjutnya diberikan kepada para siswa yang membutuhkan.
Sebanyak 101 siswa-siswi SDK Wolorae menjadi sasaran penerima bantuan. Bantuan yang diberikan terdiri dari 70 pasang seragam SD, 54 pasang sepatu sekolah, serta 70 paket perlengkapan sekolah yang berisi tas, buku, bolpoin, tumbler, tipe-x, penghapus dan pensil.
Tidak hanya memberikan bantuan berupa kebutuhan pendidikan, kehadiran Polres Nagekeo juga membawa sentuhan kemanusiaan lainnya. Tim Dokkes Polres Nagekeo memberikan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan kepada para guru, sementara personel Polwan melaksanakan trauma healing bagi para siswa.
Dari SDK Wolorae, rombongan kemudian bergerak menuju SMP Negeri 1 Aesesa. Sekitar pukul 09.30 WITA, bantuan kembali diserahkan secara simbolis oleh Wakapolres Nagekeo kepada Kepala SMP Negeri 1 Aesesa, Paulus Niku Woda, S.Pd.
Sebanyak 368 siswa-siswi SMP Negeri 1 Aesesa menjadi sasaran penerima bantuan. Bantuan yang disalurkan berupa 70 pasang seragam SMP, 70 pasang sepatu sekolah dan 70 paket perlengkapan sekolah yang terdiri dari tas, buku, bolpoin, tumbler, tipe-x, penghapus dan pensil.
Di sekolah tersebut, personel Polwan Polres Nagekeo kembali memberikan trauma healing kepada para pelajar. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membantu anak-anak melewati rasa takut dan trauma yang masih tersisa akibat bencana.
Kapolres Nagekeo AKBP Rachmat Muchamad Salihi, S.I.K., M.H., mengatakan bahwa bantuan tersebut bukan sekadar pemberian barang, tetapi merupakan bentuk nyata kepedulian dan dukungan agar anak-anak Nagekeo tidak kehilangan semangat untuk belajar dan meraih cita-cita.
«“Bencana boleh mengguncang bangunan, tetapi jangan sampai mengguncang semangat dan masa depan anak-anak kita. Melalui bantuan ini, kami ingin menyampaikan bahwa mereka tidak sendiri. Ada Polri, Bhayangkari dan seluruh pihak yang peduli dan akan terus mendampingi mereka untuk bangkit,” ujar Kapolres.»
Menurut Kapolres, perlengkapan sekolah yang diberikan diharapkan dapat meringankan beban para siswa dan orang tua yang terdampak bencana, sekaligus menjadi penyemangat bagi para pelajar untuk kembali menjalani proses belajar dengan penuh keyakinan.
«“Tas, buku, sepatu dan seragam yang kami berikan mungkin terlihat sederhana, tetapi kami berharap di balik setiap bantuan itu ada pesan besar: tetaplah bermimpi, tetaplah belajar dan jangan menyerah. Masa depan Nagekeo ada di tangan anak-anak kita,” lanjutnya.»
Kapolres juga menegaskan bahwa proses pemulihan pascabencana bukan hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan mental dan psikologis masyarakat, khususnya anak-anak.
«“Kami tidak hanya ingin membantu mereka kembali bersekolah, tetapi juga ingin memastikan mereka merasa aman, didengar dan didampingi. Trauma healing yang dilakukan Polwan adalah bagian dari upaya kami untuk menguatkan kembali mental anak-anak setelah menghadapi situasi yang tidak mudah,” ungkap AKBP Rachmat.»
Kegiatan yang berakhir sekitar pukul 10.00 WITA tersebut berlangsung aman, tertib, lancar dan kondusif.
Bagi para pelajar di SDK Wolorae dan SMP Negeri 1 Aesesa, bantuan tersebut bukan sekadar seragam, sepatu, tas dan buku. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi simbol bahwa di tengah luka akibat gempa, masih ada tangan-tangan yang terulur untuk membantu, ada kepedulian yang menguatkan, dan ada harapan yang terus dijaga untuk masa depan mereka.

Tidak ada komentar:
Write comment